Hujan buatan selamatkan waduk di Batam dari kekeringan

Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi.

KONTAN. CO. ID – JAKARTA. Tinggi Muka Air (TMA) seluruh waduk di wilayah Batam naik siginifikan dalam tiga hari final. Kenaikan TMA bahkan selamatkan operasional sebagian waduk.     Berdiam Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada wilayah Batam tetap dilanjutkan had 20 hari mendatang.

Hingga kemarin, elevasi muka air Waduk  Sei Ladi naik capai lebih sejak 1 meter (117 cm), Lambung Sei Harapan  naik 61 cm, Waduk Muka Kuning  naik 41 cm,   Waduk Duriangkang  terangkat 26 cm, dan Waduk Nongsa  naik 21 cm.

“Setiap hari terjadi hujan di wilayah Batam dengan intensitas sedang hingga deras. Dalam kurang hari ini, curah hujan memang cukup besar. Berdasarkan data penakar rata-rata curah hujan selama 10 hari ini mencapai 122, 3 mm, ” ujar Koordinator Lapangan TMC-BBTMC Posko Batam Budi Harsoyo di Batam, Selasa (23/6).    

Hujan deras dalam tiga hari terakhir, mampu menyelamatkan perihal waduk itu sendiri.     Salah satunya, waduk Muka Kuning yang terancam  shut down   atau berhenti operasional untuk suplai air baku.

“TMA Waduk Muka Kuning  turun sekitar 4 cm perhari karena pengambilan untuk kebutuhan air baku. Alhamdulillah, hujan deras pada Sabtu cerai-berai, intensitas di Waduk Muka Pelit capai 52 mm sehingga dapat    meningkatkan elevasi waduk setinggi 56 cm. Jadi posisinya telah aman dan kembali beroperasi biasa, ” ungkapnya.

Selain Waduk Depan Kuning, dampak TMC juga tampak pada Waduk Sei Ledi.     “Hujan dua hari pada Jum’at dan Sabtu lalu mewujudkan elevasi Waduk Sei Ladi terangkat satu meter lebih. Sekarang cuma dibutuhkan penambahan sekitar    98 cm dari batas limpas, ” ujar Budi Harsoyo..

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dijalankan Balai Besar Teknologi Modifikasi Iklim (BBTMC-BPPT) dimulai sejak 10 Juni lalu.     Selama 10 hari    pelaksanaan TMC pada Batam,   berdasarkan hasil penyelidikan data curah hujan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM),   volume hujan tercatat telah mencapai 45, 1 juta meter kubik.

“Kami tetap berjuang memanfaatkan potensi awan yang ada untuk membantu masyarakat Batam keluar dari kesulitan kebutuhan air patokan sehari-hari. Masih ada 20 hari    ke depan pelaksanaan TMC khusus wilayah Batam, ” ujar Jon Arifian,   Pelaksana Harian Kepala BBTMC-BPPT.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala    BBTMC-BPPT Tri Handoko Seto kembali mengingatkan agar para pengelola waduk dapat melaksanakan TMC secara tepat waktu.

“TMC harus menjadi bagian pengelolaan waduk menyeluruh. Sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan air baku tetapi juga meningkatkan produktivitas waduk itu sendiri, meningkatkan pertanian, PLTA dan lain-lain, ” ujarnya.

Di sisi lain, Tri Handoko Seto juga mengharapkan para-para pengelola waduk melakukan pembenahan tadbir arsip data waduk yang indah.

“Kekurangan di Batam saat itu, kami belum mendapatkan data pemakaian air waduk harian untuk bisa menghitung volume hasil TMC secara lebih komprehensif. Oleh karena itu, disarankan agar penyimpanan arsip dan pencatatan harian data hidrologi waduk dapat lebih ditingkatkan dan diperhatikan lebih baik lagi, ” ujarnya.

Seperti diketahui, wilayah Batam yang terletak di Kepulauan Riau merasai kekeringan akibat musim kemarau 2019 yang cukup panjang. Pada Januari-Februari lalu jumlah curah hujan    lebih rendah dari batas lazim. Akibatnya, TMA Waduk-waduk di Batam turun drastis. Penurunan tinggi muka air ini apabila tidak diantisipasi akan menjadi masalah serius untuk Pulau Batam dikarenakan kebutuhan sumber daya air baku hanya bersumber dari waduk.


–> Video Pilihan

–>

–>
KEMARAU

–>