Benahi Bursa Saham

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

LANGSUNG. CO. ID – Saat melakukan kunjungan ke pabrik yang dimiliki salah satu perusahaan barang konsumsi besar di Indonesia di Jawa Timur kaum tahun silam, saya tahu bertemu dengan pimpinan bagian perusahaan tersebut. Saat itu, si pimpinan cabang tersebut berkisah, dia termasuk karakter yang anti berinvestasi di bursa saham Indonesia.

Alasan dia, saham-saham pada Indonesia kebanyakan digerakkan oleh tangan-tangan gaib, yang tidak jelas siapa pemiliknya. Si pimpinan cabang ini mengecap, ia lebih memilih berinvestasi di valuta asing, secara alasan sentimen yang mempengaruhi lebih jelas.

Melihat sejumlah kejadian yang terjadi dalam bursa saham belakangan ini, saya kembali teringat rapat dengan si pimpinan bagian yang saya temui itu. Pelaku pasar juga sedang ramai membicarakan pergerakan kehormatan sejumlah saham berkapitalisasi rekan kecil, yang naik cepat dalam waktu singkat.

Bahkan, ada saham yang tadinya berstatus sebagai small caps, kini menjadi salah satu saham berkapitalisasi pasar besar alias big caps di bursa. Kapitalisasi pasarnya bahkan melebihi kapitalisasi pasar sejumlah perusahaan besar yang sudah punya nama mulia.

Yang menjadi kekhawatiran adalah, harga saham-saham tersebut disinyalir menguat tanpa disertai fundamental. Kalau benar, artinya kenaikan harga saham ini semu. Seperti kata si pemimpin cabang yang hamba ceritakan di awal karya, ada tangan gaib yang menggerakkan harga saham di bursa saham. Alih-alih menjelma tempat investasi, bursa saham malah jadi tempat spekulasi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tengah meninjau fenomena ini. Memang, institusi pengawas pasar modal ini belum menegaskan akan mengambil sikap tertentu terkait tanda ini. Tapi ada harapan OJK akan melakukan penataan. Apalagi, lembaga ini benar tengah getol meningkatkan perlindungan bagi investor di pasar saham dalam negeri.

OJK misalnya bakal memandang perusahaan terbuka yang pencatatan sahamnya dihapus dari pura, baik secara sukarela ( voluntary delisting ) maupun terpaksa ( forced delisting ), untuk melakukan pembelian saham ( buyback ) dari investor publik. Dengan demikian, investor tidak terpaksa nyangkut dalam saham yang harus delisting .

Terkait harga saham dengan naik melebihi nilai adil, emiten juga mungkin menetapkan diwajibkan untuk memaparkan peluang bisnis, agar pelaku pasar juga bisa membuat perhitungan yang wajar.

Penulis: Harris Hadinata

Editor Pelaksana


. bg-color-linkedin background-color: #0072b1;

<! —

–> <! —

Video Pilihan gong9deng –>
<! —

Harga Saham

gong9deng –>